Pengen Tahu Alur Kerja Bagasi Pesawat?


Wisata / Selasa, Januari 16th, 2018

Saya beberapa kali menulis di blog ini hal-hal sederhana yang terkait dengan perjalanan udara, seperti pengalaman transit di beberapa bandara, bagaimana persiapan pesawat sebelum terbang, dan bagaimana melacak posisi pesawat secara online. Bukan karena saya bekerja di lingkungan bandara atau sebuah maskapai, namun semata-mata saya hanya penasaran dan ingin tahu karena kebetulan saya sering melakukan perjalanan udara, serta ingin membagikan apa yang saya tahu kemudian melalui sebuah cerita dan tulisan melalui blog ini.

bgsi1Saya sering kali penasaran, bagaimana bagasi yang kita bawa, kemudian saat checkin bagasi tersebut masuk melalui conveyor belt, ditangani oleh pihak bandara/maskapai. Sebenarnya bagaimana proses yang terjadi di dalam sana, sampai pada akhirnya kita bisa mengambil kembali bagasi milik kita tersebut di tempat tujuan. Seperti biasanya saya googling, dan menemukan satu tautan yang berisi informasi yang saya cari ini. Apa yang akan saya tuliskan selanjutnya adalah terjemahan bebas dari sumber di bawah ini:

http://science.howstuffworks.com/transport/flight/modern/baggage-handling.htm

Sistem penanganan bagasi di bandara memerankan peranan yang sangat penting, untuk menjaga para penumpang tetap senang dalam menikmati perjalanannya. Kita juga bisa menilai kualitas sebuah bandara dari bagaimana cara mereka menangani bagasi. Bukan hanya penumpang yang akan menilai, namun maskapai pun akan membedakan mana bandara yang memberikan servis terbaik. Dari penilaian tersebut maskapai akan memutuskan apakah akan tetap menggunakan sebuah bandara tersebut sebagai HUB mereka atau tidak (Hub adalah bandara yang difungsikan oleh sebuah maskapai sebagai pusat untuk mengatur dan menyambungkan para penumpangnya ke perjalanan lanjutan berikutnya dari pesawat yang satu ke pesawat berikutnya).

Sistem penanganan bagasi (baggage-handling system: bhs) mempunyai 3 tugas pokok:

Memindahkan bagasi dari area checkin ke pintu keberangkatan
Memindahkan bagasi dari satu pintu ke pintu yang lainnya selama waktu transfer
Memindahkan bagasi dari pintu kedatangan ke area klaim bagasi

Ukuran tingkat keberhasilan sistem penanganan bagasi di sebuah bandara sebenarnya sederhana: bisakah bagasi berpindah dari satu titik ke titik berikutnya secepat para penumpang itu sendiri? apabila bagasi-bagasi tersebut berpindah sangat lamban, kita sebagai penumpang akan sangat frustasi menunggu bagasi-bagasi kita tersebut, atau karena perpindahan bagasi tadi lamban, bisa jadi menyebabkan tas-tas kita tidak terangkut pada pesawat lanjutan berikutnya padahal kita menggunakan pesawat lanjutan tadi. Atau bisa juga terjadi sebaliknya, bagasi datangnya terlalu cepat, ketika tas-tas tadi sudah terangkut oleh pesawat lanjutan, giliran kita yang ketinggal pesawat tersebut.

Setiap bandara mempunyai aturan masing-masing dalam menangani bagasi penumpang. Misalnya, waktu yang dialokasikan untuk sebuah bagasi untuk bisa berpindah dari checkin area ke suatu gate/pintu, ditentukan oleh seberapa cepat penumpang dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menempuh perjalanan dengan jarak tempuh dan lokasi tujuan yang sama (checkin area ke gate). Di satu bandara mungkin lokasinya bisa ditempuh dengan jalan kaki saja, namun di bandara yang lain bisa jadi harus ditempuh dengan menggunakan kereta atau bis.

Selanjutnya apa yang dituliskan di artikel ini adalah contoh penanganan bagasi di bandara internasional Denver. Bandara ini menggunakan sistem penanganan bagasi otomatis yang dirancang oleh BAE Automated System, Inc yang mampu memindahkan bagasi dari area checkin ke gate keberangkatan dengan sistem yang bisa dikatakan otomatis:

Destination-coded vehicles (DCVs), kereta tanpa awak yang didorong oleh motor induksi linear yang disambungkan ke rel. Kereta ini bisa bongkar dan muat bagasi tanpa harus berhenti
Automatic scanners, memindai label yang ada di bagasi
Conveyors, yang dilengkapi dengan mesin persimpangan dan pemilahan yang secara otomatis bisa mengarahkan bagasi ke gate yang dituju

Sistem penanganan bagasi bisa diibaratkan mirip dengan suatu sistem jalan raya di sebuah

bgsi2 kota. Conveyors mirip dengan jalan raya biasa, sedangkan rel DCV adalah jalan tol/highway, sedangkan bagasi bisa diibaratkan sebagai mobil. Sistem jalan raya dan penanganan bagasi mempunyai kemiripan sebagai berikut:

Apabila conveyor atau rel DCV diblok (macet), maka bagasi bisa dialihkan
Bagasi memulai dan menyudahi perjalanan di conveyor (sama seperti halnya ketika kita mengendarai mobil di jalan raya), berpindah ke rel DCV ketika akan menempuh jarak yang lebih jauh, misalnya dari terminal ke terminal atau dari gate ke gate.
DCV tidak pernah berhenti, sama halnya ketika kita melewati jalan tol, tidak akan pernah dijumpai lampu merah di jalan tol.

Namun begitu semuanya diatur oleh sistem penanganan bagasi kemanapun bagasi-bagasi tersebut akan diarahkan. Ratusan komputer memonitor lokasi setiap tas, setiap jadwal perjalanan penumpang dan jadwal terbang pesawat. Komputer mengontrol persimpangan conveyor dan perpindahannya ke rel DCV dan memastikan bahwa setiap tas berakhir pada tujuan akhir yang benar.

Prosesnya dimulai ketika kita checkin dan menyerahkan tas/bagasi kita kepada petugas checkin. Petugas akan mencocokkan data-data kita yang ada di komputer dan akan mencetak tag (label) yang kemudian tag tersebut ditempelkan ke tas atau bagasi kita. Tag ini mempunyai tanda barcode bernomor 10-digit yang berisi semua informasi penerbangan kita, termasuk informasi apabila kita transit. Barcode ini merupakan ciri khas dari bagasi kita dan sifatnya unik (tidak ada barcode ganda). Komputer sistem yang ada di bagian penanganan bagasi akan membaca barcode ini untuk membaca data-data penerbangan kita.

Pemberhentian pertama bagasi kita setelah melalui proses checkin adalah ruangan pemindai barcode otomatis. Ruangan ini berupa deretan pemindai barcode yang disusunbgsi3 360 derajat mengelilingi conveyor. Alat ini bisa membaca kurang lebih 90% bagasi yang lewat, sedangkan 10% sisanya akan dialihkan ke conveyor selanjutnya untuk dilakukan pemindaian manual. Ketika alat pemindai sudah membaca 10-digit barcode yang menempel di bagasi kita, artinya bagasi tersebut akan diketahui lokasinya setiap saat. Conveyor akan mengambil setiap tas yang akan diarahkan ke masing-masing tujuan penerbangan.

bgsi4Conveyor terdiri dari banyak jaringan. Ada ratusan conveyor dengan sambungan-sambungan yang menyambungkan conveyor satu dengan yang lainnya. Sistem conveyor akan memilah tas-tas atau bagasi dari beberapa pesawat yang berbeda, kemudian mengirimkan bagasi-bagasi tersebut ke DCV untuk diarahkan ke terminal-terminal tujuan masing-masing. Pada saat tas kita sudah dipindai (di-scan), sistem penanganan bagasi akan selalu bisa melacak pergerakannya setiap saat. Ketika tas tersebut sudah sampai pada sambungan antar conveyor, ada alat yang namanya pusher, yang akan meneruskan tas tersebut untuk tetap melalui conveyor yang sama, atau alat ini akan mendorong tas tadi ke conveyor yang berbeda. Melalui jaringan conveyor dan sambungannya ini (junction) tas-tas tadi bisa dikirimkan ke setiap tujuan akhir masing-masing.

Tugas dari DCV (the Destination Coded Vehicle) adalah memindahkan tas secara cepat kebgsi6 gate terkait. DCV adalah kereta metal dengan roda di bawahnya dan ada semacam bak plastik di atasnya. DCV digerakkan melalui suatu jalur rel (seperti roller coaster) yang didorong oleh induksi motor linear yang dipasangkan di jalur rel tersebut. Induksi motor ini menggunakan elektromagnetik untuk membentuk dua medan magnet yang berbeda, satu di rel dan satunya lagi di dasar DCV yang saling tarik menarik satu sama lain. Motor menggerakkan medan magnet yang ada di rel, dan menarik DCV sepanjang jalurnya dengan kecepatan tinggi.

Ada semacam poros yang dipasangkan pada bak yang ada di DCV. Hampir setiap saat bak ini dimiringkan ke arah belakang untuk menjaga agar tas-tas yang dibawanya tidak terjatuh atau tergeser keluar. Ada semacam tali yang mengunci bak tersebut dalam posisi demikian. Ketika DCV sudah sampai di loading area (tempat pemuatan barang), ada bgsi7semacam tiang yang ada di jalur rel yang akan naik dan melibatkan tuas yang berada di DCV untuk menggerakkan posisi bak pada posisi mendatar. Ketika DCV yang kosong tersebut berada di loading conveyor, tas-tas yang ada di conveyor akan bergerak meninggalkan ujung conveyor menuju ke bak-bak yang ada di DCV tersebut. Semua proses berlangsung tanpa harus menghentikan DCV. Conveyor mempunyai sistem penjemputan optik, dengan demikian tas-tas tadi bisa dideteksi secara tepat dimana lokasinya dan dapat dimuat kedalam DCV pada waktu yang tepat.Proses pembongkaran (unloading) DCV melalui proses yang hampir sama dari proses pemuatan (loading). Sebuah mekanisme yang terjadi di jalur rel menggunakan tuas untuk memiringkan bak ke arah bawah sehingga tas-tas akan jatuh ke dalam conveyor yang berjalan di sepanjang sisinya. Pada kondisi ini, bagasi-bagasi tersebut sudah berada dekat dengan posisi pesawat terbang.

Tas-tas tersebut kemudian akan menuju ke ruang pemisahan (sorting station) yang ada di bgsi8dekat gate. Di ruang pemisahan ini petugas bagasi akan menaikkan tas ke dalam gerobak atau kereta bagasi yang akan langsung menuju ke pesawat. Ketika memuat tas ke dalam pesawat, tas-tas yang akan melalui transfer, akan dimuat ke suatu tempat yang terpisah dari tas-tas yang akan langsung menuju ke area klaim bagasi. Monitor di ruang pemisahan akan menginformasikan kepada petugas tas-tas tersebut menuju ke destinasi/tujuan mana. Ketika proses pemuatan bagasi/tas ke dalam kereta atau kontainer sudah selesai, kemudian tas-tas tersebut akan dibawa menuju ke pesawat. Proses pemuatan ke dalam pesawat ada dua cara: bulk loaded, berarti tas satu per satu akan ditempatkan ke dalam rak-rak di kargo pesawat, dan yang kedua container loaded, berarti tas dimasukkan ke dalam kontainer khusus di luar pesawat/ground, dan kontainer tersebut langsung dimasukkan ke dalam pesawat.

bgsi9Apabila tas atau bagasi kita harus melewati transfer di hub sebuah maskapai dan kita harus menggunakan pesawat yang berbeda untuk melanjutkan perjalanan, proses yang terjadi adalah ada 2 DCV yang berjalan berlawanan. Satu DCV membawa langsung bagasi penumpang ke area klaim bagasi. Kemudian proses yang lainnya adalah conveyor membawa bagasi ke stasiun pemindai, kemudian diarahkan ke jalur DCV yang membawa tas-tas penumpang ke pintu-pintu terdekat dengan pesawat lanjutan.

Seberapa cepat atau lambat bagasi-bagasi sampai ke tangan penumpang sesaat setelah mereka turun dan keluar dari pesawat bisa menunjukkan bagaimana kualitas sistem penanganan bagasi yang ada di sebuah bandara. Bagaimana dengan bandara Soekarno Hatta? Pengalaman saya terutama ketika saya baru pulang dari bepergian di luar negeri dan sesaat saya keluar dari pesawat (biasanya saya menggunakan Emirates, Etihads, atau Qatar Airways), dibutuhkan waktu yang cukup lama kurang lebih 1 jam untuk bisa mendapat bagasi-bagasi saya tersebut.

Sepertinya sistem penanganan bagasi di bandara Soekarno Hatta belum sepenuhnya otomatis, dan masih dijalankan secara manual. Bandara Soekarno Hatta pun belum dijadikan hub oleh maskapai-maskapai besar. Biasanya maskapai-maskapai ini menggunakan KLIA atau Changi sebagai hub mereka. Mungkin salah satunya disebabkan oleh sistem penanganan bagasi yang sudah lebih baik dan maju di kedua bandara tersebut dibandingkan dengan yang ada di Bandara Soekarno Hatta. Semoga ke depannya Bandara Soetta bisa semakin berbenar dan bisa mengejar ketinggalan dari bandara-bandara di negara tetangga. Bagaimanapun juga bandara internasional merupakan pintu gerbang pertama untuk memasuki sebuah negara, yang bisa jadi mampu memberikan kesan pertama kepada para pengunjung bagaimana wajah negara ketika memasuki negara tersebut. Mempunyai sebuah bandara internasional yang modern, tertata rapi, dan ter-menej dengan baik tentunya harapan kita semua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *